Latest Post
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Gereja, Sejarah Kalender Masehi dan Tahun Baru Hijriyah

Written By admin on Senin, 30 Desember 2013 | 16.32

http://islamediaonline.files.wordpress.com/2013/12/perayaan-tahun-2013-jakarta-baru-bebas-kendaran-bermotor-copy.jpg
Selama ini kita mengenal ada 2 macam bentuk penanggalan yaitu lunar (mengacu pada bulan), solar (mengacu pada matahari), dan lunisolar (mengacu pada keduanya).  Yang paling kita kenal di dunia ini adalah penanggalan Hijriyah dan Masehi. Kalender Hijriyah adalah kalender  yang mengacu pada perputaran bulan. Sedangkan kalender Masehi mengacu pada perputaran matahari.  

Kata Masehi digunakan oleh umat Kristen awal untuk menetapkan hari kelahiran Yesus yang dalam bahasa latin disebut Anno Domini (AD) yang berarti “Tahun Tuhan Kita” atau Common Era/CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan Before Christ/BC (sebelum [kelahiran Kristus) atau Before Common Era / BCE (Sebelum Era Umum).

Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat selama abad ke-8.

Semula biarawan Katolik, Dionisius Exoguus pada tahun 527 M ditugaskan pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Nabi Isa as (Yesus). Dan mula-mula dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma.

Awalnya penghitungan hari Orang Romawi terbagi dalam 10 bulan saja (kecuali Januari dan Februari). Persis dengan pemberian nama hari, pemberian nama bulan pada tarikh yang kemudian menjadi penghitungan hari Masehi ini ada kaitannya dengan dewa bangsa Romawi. Bulan Martius mengambil nama Dewa Mars, bulan Maius mengambil nama Dewa Maia dan bulan Junius mengambil nama Dewa Juno.

Sedang  nama-nama Quintrilis, Sextrilis, September, October, November dan December diambil berdasarkan angka urutan susunan bulan. Quntrilis berarti bulan kelima, Sextilis bulan keenam, September bulan ketujuh, October bulan kedelapan dan December bulan kesepuluh.

Aprilis diambil dari kata Aperiri, sebutan untuk cuaca yang nyaman di dalam musim semi. Berdasarkan nama-nama tersebut di atas, tampak¸bahwa di zaman dahulu permualaan penanggalan Masehi jatuh pada bulan Maret.

Penanggalan yang terdiri atas 10 bulan kemudian berkembang menjadi 12 bulan. Berarti ada tambahan 2 bulan, yaitu Januarius dan Februarius. Januarius adalah nama dewa Janus. Dewa ini berwajah dua, menghadap ke muka dan ke belakang, hingga dapat memandang masa lalu dan masa depan. Karenanya Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama. Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara semacam bersih kampung atau ruwatan untuk menyambut kedatangan musim semi. Dengan ini Februarius menjadi bulan yang kedua, sebelum musim semi datang pada bulan Maret.

Awalnya bulan-bulan terdahulu letaknya di dalam penanggalan baru menjadi tergeser dua bulan, dan susunannya menjadi: Januarius, Februarius, Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintrilis, Sextilis, September, October, November dan December.

Ketika Julius Caesar berkuasa, ia menerima anjuran para ahli perbintangan Mesir untuk memperpanjang tahun 46 SM menjadi 445 hari dengan menambah 23 hari pada bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan December. Setelah kembali ke Roma, Julis Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hinga kini yakni penggunaan sistem matahari dalam sistem penanggalan seperti yang dipelajarinya dari Mesir.

Keputusannya kala itu,  setahun berumur 365 hari karena beralasan,  bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Kedua setiap 4 tahun sekali, umur tahun tidak 365 hari, tapi 366 hari, disebut tahun kabisat. Tahun kabisat ini sebagai penampungan kelebihan 6 jam setiap tahun yang dalam 4 tahun menjadi 4×6=24 jam atau 1 hari.

Untuk menghargai jasa Julius Caesar dalam melakukan penyempurnaan penanggalan itu, maka penanggalan tersebut disebut penanggalan Julian. Dengan menganti nama bulan ke-5 yang semula Quintilis menjadi Julio, yang kita kenal sebagai bulan Juli.

Waktu terus berjalan, rupanya penanggalan Julian juga memperlihatkan kemelesetan juga. Apabila pada zaman Julis Caesar jatuhnya musim semi mundur hampir 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hari dari patokan.

Guna meluruskan kemelesetan, Paus Gregious XIII pimpinan Gereja Katolik di Roma pada tahun 1582 mengoreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan. Pertama, angka tahun pada abad pergantian, yakni angka tahun yang diakhiri 2 nol, yang tidak habis dibagi 400, misal 1700, 1800 dsb, bukan lagi sebagai tahun kabisat (catatan: jadi tahun 2000 yang habis dibagi 400 adalah tahun kabisat)
Kedua untuk mengatasi keadaan darurat pada tahun 1582 itu diadakan pengurangan sebanyak 10 hari jatuh pada bulan October, pada bulan Oktober 1582 itu, setelah tanggal 4 Oktober langsung ke tanggal 14 Oktober pada tahun 1582 itu.

Ketiga sebagai pembaharu terakhir Paus Regious XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru lagi. Berarti pada perhitungan rahib Katolik, Dionisius Exoguus tergusur. Tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengertian Nabi Isa. as (Yesus) lahir pada tanggal 25, dan permulaan musim semi pada bulan Maret.

Ternyata, penanggalan tahun Masehi yang dipakai saat ini  berdasarkan Astrologi Mesopotamia yang dikembangkan oleh astronum-astronum para penyembah dewa-dewa. Maka nama-nama bulan pun memakai nama dewa dan tokoh-tokoh pencetus penanggalan kalender Masehi. Lalu  ditetapkan oleh Paus Katolik dan menjadi tradisi umat Kristen se-Dunia.

Kebenaran Hijriyah

Pada masa kini, manusia pada umumnya (khususnya kaum Muslim) lebih sering menggunakan kalender Masehi daripada kalender Hijriyah. Padahal, ini mempunyai dampak terhadap ibadah umat Muslim seperti pada puasa, hari raya, dan shalat.

Sebagai contoh, jika kita mengacu pada kalender Masehi,maka shalat Isya yang dilaksanakan pada tengah malam atau pada pukul 00.00 maka apakah masih sah shalat yang kita tunaikan? Karena dalam Islam, permulaan waktu terletak pada waktu terletak pada waktu terbenamnya matahari. 

Sedangkan, dalam kalender Masehi, permulaan waktu terletak pada pukul 00.00.  Jadi, jika kita shalat Isya hari Rabu pukul 00.00 berarti bukannya kita sudah masuk hari Kamis? Ini harus menjadi pelajaran bagi umat Muslim secara keseluruhan.

Hijriyah adalah penanggalan perdana dalam sejarah hidup umat manusia, bukan hanya umat Muslim saja. Alkisah, ketika itu umat Muslimin belum mengetahui tentang ihwal penetapan tahun. Ketika zaman kekhalifahan,  Abu Musa Al-Asyari menulis surat kepada amirul mu’minin yang tidak ada tanggal dan tahunnya sehingga membingungkan. Lalu Umar ketika itu mengumpulkan para sahabat-sahabat senior untuk bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah, ada yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Rasulullah menjadi Rasul, dan ada yang mengusulkan berdasarkan momentum hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Maka diputuskanlah berdasarkan momentum hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai awal penetapan kalender Islam.  

Tahun qamariyah atau lunar year adalah tahun yang lebih panjang dikarenakan orbit bukan berbentuk lingkaran bundar, elips, ataupun lonjong. Karena bentuk lingkaran begini akan menimbulkan kekacauan dan susah untuk diramalkan. Orbit demikian tidak mungkin terjadi dalam tarik menariknya tata surya dengan bumi. Karena bumi berada pada titik perihelion atau terdekat dengan matahari dia harus membelokkan arah layangnya ke kiri beberapa derajat mengitari surya yang didekati. Orbit tatasurya berbentuk oval. Dengan orbit oval terbentuklah daya layang berkelanjutan dan aktivitas sunspots yang berubah sepanjang tahun untuk mewujudkan perubahan cuaca di muka bumi.

Itulah salah satu tanda yang telah Allah Subhanahu Wata’ala jelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 189:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوْاْ الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُواْ الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan), katakanlah “ia adalah penentu waktu bagi manusia dan haji. Dan tiada kebaikan bahwa kamu mendatangi rumah-rumah (penanggalan)dari belakangnya, tetapi kebaikan itu ialah ia yang menginsyafi. Datangilah rumah-rumah pada pintunya. Insyaflah pada Allah semoga kamu menang.”

Hal ini juga tertera dalam firman Allah surat At-taubah ayat 37
إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ يُحِلِّونَهُ عَاماً وَيُحَرِّمُونَهُ عَاماً لِّيُوَاطِؤُواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللّهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ اللّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran. Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Dijadikan terasa indah bagi perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petujuk kepada orang-orang yang kafir.”

Kalender Hijriyah layak mendapatkan perhatian lebih karena ia tidak terikat dengan pergantian musim. Salah satu dampak positifnya bagi umat Islam dalam kalender ini adalah saat menjalankan syariat.  Beberapa di antaranya yang terikat dengan penanggalan ini adalah masalah puasa dan haji.
Semoga hari-hari ke depan kita bisa memulai dan membiasakan diri menggunakan warisan Islam, berupa kalender Hijriyah. Wallahu a’lam bish-shawab.*

Abby Fadhillah Yahya
Dipublish pertama kali oleh hidayatullah.com 

Kisah Perubahan Arah Kiblat Dari Baitul Maqdis Ke Ka’bah

Written By admin on Minggu, 01 Desember 2013 | 00.52

Dulu Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam sholat menghadap kea rah Baitul Maqdis, sedangkan beliau ingin dipalingkan kea rah Ka’bah dan mengatakan kepada Jibril, “Aku ingin sekiranya Allah memalingkan wajahku dari kiblat yahudi.” Kemudian Jibril menimpali, “Aku hanyalah seorang hamba, maka berdo’alah kepada Robbmu dan memintalah.” Beliau pun mengarahkan wajahnya ke langit karena mengharapkan hal itu, hingga Allah menurunkan padanya ayat,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”
{QS. Al-Baqoroh: 144.}

Hali itu terjadi setelah 16 bulan sejak kedatangan Nabi di Madinah dua bulan sebelum perang badar. {Ibnu Sa’d (I/186). Lihat At-Tirmidzi (2962) dalam At-Tafsir, Bab “Wamin Suroh Al-Baqoroh”, ia mengatakan hasan shohih.}

Dalam menentukan kiblat ke arah Baitul Maqdis, kemudian merubahnya ke arah Ka’bah, Allah memiliki berbagai hikmah yang besar, dan sebagai ujian bagi kaum Muslimin, orang-orang musyrik, yahudi, dan kaum munafiq.

ADAPUN KAUM MUSLIMIN, maka mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami patuh,” serta mengatakan,

آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Kami beriman dengannya, semuanya itu dari sisi Robb kami.”
{QS. Ali Imron: 7.}

Mereke itulah orang-orang yang diberi hdayah oleh Allah, dan itu bukanlah suatu yang berat atas mereka.

ADAPUN KAUM MUSYRIK, maka mereka mengatakan, “Sebagaimana mereka kembali ke kiblat kami, maka mereka sebentar lagi akan kembali kepada agama kami. Tidaklah ia kembali kepadanya melainkan bahwa itu (agama kami) adalah kebenaran.”

Mereka menganggap bahwa Allah memindahkan arah kiblat ke ka’bah sebagai angin segar untuk membenarkan agama syirik mereka yang menyembah berhala. Dan sikap mereka ini menambah kekufuran mereka dan kesombongan mereka. Padahal Allah menetapkannya sebagai ujian mana yang beriman dan bersegera menjawab seruan kebenaran.

ADAPUN ORANG-ORANG YAHUDI, maka mereka mengatakan, “Ia menyelisihi kiblat para Nabi sebelumnya. Seandainya ia seorang Nabi, niscaya ia akan sholat menghadap ke kiblat para Nabi.”
Momen ini mereka jadikan kesempatan paling tepat untuk semakin mendustakan kenabian Muhammad shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam yang memang telah mereka dustakan karena bukan dari golongan mereka Bani Isro’il. Namun sekali lagi, tidaklah Allah menetapkannya melainkan sebagai ujian bagi mereka, mana yang beriman dan bersegera menjawab seruan kebenaran dan mana yang mereka congkak lagi kufur.

SEDANGKAN KAUM MUNAFIQ, maka mereka mengatakan, “Muhammad tidak tahu ke mana akan menghadap. Jika yang pertama (Baitul Maqdis) adalah kebenaran, maka sesungguhnya ia telah meninggalkan kebenaran. Jika yang kedua adalah kebenaran, maka sesungguhnya selama ini ia berada di atas kebathilan.”

Lihatlah komentar dari orang-orang munafiq ini, komentar yang paling “nyelekit” dan paling berisi syubhat. Begitulah orang munafiq selalu meragukan dan membuat manusia ragu akan kebenaran Islam. Mereka menganggap Nabi Muhammad adalah seorang yang selalu berada di atas kebathilan, dan perkataan mereka jauh lebih keji.

Selain itu, cukup banyak celotehan orang-orang bodoh. Hal itu sebagaimana difirmankan Allah,

وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلاَّ عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ

“Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.”
{QS. Al-Baqoroh: 143.}

Itulah ujian dari Allah yang diujikan kepada para hambaNya, agar Dia melihat siapa di antara mereka yang mengikuti Rosul dan siapa yang berbalik ke belakang.
{Zaadul Ma’ad (III/66-67).}

[Dikutip (dengan sedikit edit & tambahan) dari “Jaami’us Siiroh” Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah, penyusun; Yusri Sayyid Muhammad. Edisi terjemah “Sejarah Hidup Nabi Muhammad dan Para Shahabat”, Penerbit Daar An-Naba’, hal.56-58, penerjemah; Al-Ustadz Izzudin Karimi.]
 
Support : Herbal Website | Blogger Information | Template
Copyright © 2011. Blogger Information Center - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Template
Proudly powered by Blogger